Mobilitas global berubah terutama seiring dengan pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik dan dampak jangka panjang dari COVID-19.

Jumlah pengemudi telah meningkat secara drastis di kawasan ini. Selama tahun 2005 hingga 2015, jumlah kepemilikan mobil meningkat lebih dari 13 persen setiap tahunnya dan pada tahun 2015 saja, angka jarak tempuh perjalanan darat mencapai lebih dari 16 triliun kilometer.

Tingkat konsumsi kendaraan baru di Tiongkok memang menurun pada akhir tahun 2019 dan anjlok saat COVID-19 pertama kali muncul pada awal tahun 2020. Namun, angka ini dengan cepat naik kembali saat kebijakan pembatasan terkait pandemi ditarik. Pertumbuhan ini diperkirakan akan terus berlanjut seiring masyarakat menghindari angkutan umum dan memilih menggunakan kendaraan pribadi.

 

Rush hour traffic jam in China

Hal ini telah mengakibatkan meledaknya kepadatan lalu lintas di Beijing – 50 persen di atas rata-rata sebelum pandemi – karena pengguna angkutan umum berkurang drastis. Sementara itu, penjualan mobil baru di Korea Selatan telah melampaui angka penjualan tahun 2019.

Virus corona telah mengubah mobilitas global.

Faktor pendorong lainnya adalah pertumbuhan kelas menengah di Asia-Pasifik yang kini memiliki akses ke gaya hidup yang lebih baik.

Dengan demikian, akan makin banyak orang di kawasan tersebut, terutama di negara berkembang, yang membeli kendaraan pribadi, bepergian, berbelanja produk yang dikirimkan dari seluruh dunia, dan mengembangkan bisnis mereka sendiri. Alhasil, akan makin banyak barang yang diangkut karena jaringan suplai harus memenuhi permintaan yang terus meningkat ini.

Meningkatnya permintaan barang – dan logistik untuk memenuhinya, berbanding lurus dengan perkembangan teknologi baru yang mampu meningkatkan efisiensi energi dan memungkinkan pengemudi untuk lebih memaksimalkan kendaraannya.

Dengan bahan bakar yang lebih canggih, material mobil yang lebih ringan seperti plastik, dan pelumas yang lebih baik, jarak antara penggantian oli makin panjang sehingga kendaraan pun makin efisien.

Kendaraan tersebut sekarang dapat menempuh jarak yang lebih jauh dengan konsumsi bahan bakar yang lebih sedikit karena produsen mobil memproduksi mobil dan truk ringan yang hemat bahan bakar dengan tingkat emisi CO2 yang lebih kecil.

Para pengemudi juga lebih memilih gas alam terkompresi (CNG/compressed natural gas) atau juga dikenal dengan bahan bakar gas (BBG) sebagai sumber bahan bakar untuk kendaraan berat – dengan keuntungan tambahan, yaitu dapat meningkatkan kualitas udara.

CNG berbeda dari  gas alam cair (LNG/ liquefied natural gas) karena tidak perlu disimpan pada suhu rendah dan biaya penyimpanan produksinya lebih rendah.

 

Penggunaan gas alam sebagai bahan bakar transportasi membantu mengurangi tingkat materi partikulat di kota-kota seperti New Delhi hingga 16 persen antara tahun 2002 dan 2007 dan menetapkan standar baru bagi kota-kota lain untuk terus meningkatkan kualitas udaranya. Gas alam juga merupakan pilihan yang lebih murah bagi pengguna akhir dibandingkan bahan bakar diesel sehingga dapat merangkul semua lapisan masyarakat dalam industri ini.

Baru-baru ini, negara bagian Maharashtra di India juga telah mengumumkan bahwa seluruh 18.500 armada bus berbahan bakar diesel mereka akan beralih ke LNG untuk mengurangi biaya operasi dan tingkat emisi.

Badan Energi Internasional juga memproyeksikan bahwa teknologi baterai inovatif akan membantu menggerakkan kendaraan listrik (EV) menjadi lebih efisien. Mengingat minyak dan gas alamlah yang berperan mendukung pertumbuhannya, EV diperkirakan akan mengisi sebagian besar armada kendaraan di masa yang akan datang.

Semua ini berarti penggunaan energi kendaraan selama dua dekade ke depan akan menjadi lebih cerdas dan lebih bersih.

Semuanya merupakan bagian dari keseluruhan aspek kompleks yang menjadi keseharian dalam konsumsi bahan bakar transportasi.

Tags

  • icon/text-size
You May Also Like

Jelajahi Selengkapnya

Dalam hal tenaga angin, pelumas membuat perubahan besar
Kekuatan ganggang
Truk paling spesial