DARI TEXAS KE SINGAPURA: PERTUKARAN BUDAYA IDE-IDE ILMIAH

Berita

Karena prinsip dasar sains tidak berubah menurut zona waktu, para peneliti dari Amerika Serikat dan Singapura akan segera berkolaborasi untuk membangun jalan menuju kemajuan efisiensi energi.

Dalam sebuah upacara minggu lalu, para tokoh ilmuwan papan atas Singapura menyambut rekan-rekan dari ExxonMobil sebagai langkah pertama menuju peluncuran pusat energi yang akan mendorong inovasi energi.

“Singapore Energy Center” adalah bentuk kerja sama antara dua universitas terkemuka Singapura: Nanyang Technological University, Singapura, dan National University of Singapore. ExxonMobil, yang salah satu kompleks kilang dan petrokimia terbesarnya berada di Singapura, akan menjadi salah satu pendiri.

Pusat energi yang diajukan ini, yang merupakan pusat energi ExxonMobil pertama di luar Amerika Serikat, akan dibangun melalui kemitraan yang sudah terjalin dengan lembaga akademis dan riset A.S. yang bekerja untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.

Keberadaan Pusat Energi di Singapura akan mendorong kerja sama yang kaya antara ilmuwan, peneliti, dan industri, seperti disampaikan oleh Profesor Lam Khin Yong, rektor pelaksana Nanyang Technological University, kepala staf, dan wakil presiden riset ini. “Ini menciptakan hubungan saling tergantung antara industri dan akademis, yang tidak hanya akan mempercepat terobosan teknologi, tetapi juga akan menempatkan para peneliti dan siswa kami di garda depan riset translasional.”

“Prakarsa riset bersama ini akan menggabungkan berbagai kemampuan  ilmiah yang kaya dari pihak akademis dan industri, sekaligus memecahkan beragam tantangan dunia nyata yang kompleks,” tutur Profesor Ho Teck Hua, Wakil Presiden National University of Singapore (Pusat Riset & Teknologi dan Profesor Sentenial di Tan Chin Tuan).

Di Amerika Serikat, ExxonMobil mendukung Proyek Iklim dan Energi Global dari Stanford University, dan belum lama ini bermitra dengan beberapa pusat energi di Energy Initiative pada Massachusetts Institute of Technology, Andlinger Center for Energy and the Environment pada Princeton University, dan  the Energy Institute pada  University of Texas.

Jika digabungkan, ExxonMobil menanamkan investasi lebih dari $145 juta untuk mendukung berbagai prakarsa riset di keempat pusat energi ini.

Di Princeton, misalnya, ada sebuah tim yang bekerja mengembangkan berbagai cara untuk menggunakan kembali aki kendaraan listrik (electric vehicle atau EV) yang telah habis. Dengan makin banyaknya mobil listrik yang melaju di jalanan, mencari cara untuk menggunakan kembali aki tersebut merupakan hal yang sangat penting. Di MIT, ada sekelompok peneliti yang bekerja membuat sel fotovoltaik (PV) dari material berbahan karbon. Di University of Texas, para peneliti mencari cara untuk mencetak replika partikel nano guna mengembangkan bermacam teknologi penangkap emisi.

“Pusat Energi di Singapura tidak hanya akan memperluas kemampuan dan perspektif riset kita saja, tetapi juga akan memberikan peluang untuk mendalami berbagai inovasi dari salah satu pasar energi dengan pertumbuhan terpesat di dunia,” ujar Adam Usadi, manajer perencanaan riset dan rekayasa ExxonMobil .

Tags:   Energy CenterinovasiSingapura
Anda mungkin juga suka

Jelajahi Lebih Lanjut