Membangun kemampuan berbisnis

Kemasyarakatan

Sosok sederhana ini telah membantu memberdayakan sebuah komunitas dan memberikan harapan bagi para pemuda Indonesia penyandang disabilitas.

Alifi adalah seorang pemuda penyandang disabilitas fisik yang dulunya tidak mampu menghidupi dirinya sendiri. Hanya sesekali dia menghabiskan malamnya bekerja sebagai terapis di lingkungan sekitarnya, tanpa tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.

Masa depannya tidak pasti.

Sampai dia mengikuti program yang mengajarkan keterampilan produksi makanan. Program yang dijalankan oleh ExxonMobil dan LSM SIKAS ini akhirnya membukakan pintu menuju masa depan baru tidak hanya untuk Alifi, melainkan juga untuk komunitasnya.

Program ini mengajarkan Alifi cara membuat tepung yang sehat dan bebas gluten dari singkong yang dimodifikasi melalui proses enzim kimiawi.

Singkong  membantu mengubah seluruh komunitas dan masa depan kaum muda penyandang disabilitas.

Program pelatihan keterampilan ini difokuskan untuk memberikan keterampilan kepada 50 hingga 60 warga Indonesia penyandang disabilitas dalam satu tahun, serta memberikan akses ke pasar tempat mereka dapat menjual hasil produksi tersebut.

Setelah mengikuti pelatihan, Alifi memulai bisnisnya sendiri dengan mendapatkan semua singkong dari para petani setempat sehingga ikut mendukung industri pertanian di wilayah tersebut.

Namun, dia mengatakan bahwa aspek terpenting adalah menggunakan keterampilan yang dia pelajari dari program ini untuk membantu kaum muda Indonesia penyandang disabilitas lainnya.

Alifi sendiri sekarang menyediakan lapangan pekerjaan kepada 40 hingga 50 penyandang disabilitas untuk menyiapkan singkong yang akan diolah menjadi tepung.

“Walaupun kebanyakan dari mereka penyandang disabilitas fisik, hal itu tidak menghentikan mereka untuk tetap produktif,” katanya.

Disabled indonesian

Program ini memberikan kesempatan berkelanjutan bagi penyandang disabilitas Indonesia untuk mendapatkan pekerjaan.

Para pekerja ini membantu mengolah singkong. Pertama, mereka mengupas dan mengirisnya menjadi potongan-potongan kecil sebelum mencuci singkong, lalu merendamnya selama 12 hingga 15 jam. Setelah itu, potongan tersebut dijemur lagi. Setelah kering, bahan baku tersebut dikenal sebagai ‘modified cassava flour’ (tepung singkong modifikasi) atau disingkat ‘mocaf’. Kemudian, tepung mocaf tersebut dijual ke pabrik-pabrik di Sidoarjo, Jawa Timur dan Pati, Jawa Tengah yang akan menggilingnya menjadi tepung olahan.

Untuk membuat 1,5 ton tepung mocaf yang diproduksi setiap bulan, diperlukan lima belas ton singkong mentah per minggunya.

Alifi juga mempekerjakan sebanyak 10 orang staf penuh waktu dari lingkungan sekitarnya.

Selain mendorong gerakan membeli produk lokal yang diproduksi masyarakat setempat, melalui pelatihan yang diterima oleh Alifi sendiri, sudah banyak manfaat yang ikut dirasakan oleh komunitasnya dan para penyandang disabilitas di wilayah ini.

Setelah kesuksesan bisnisnya tahun lalu, Alifi kini berencana mengembangkan usahanya dengan menambahkan produk makanan baru dan olahan singkong, yang akan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan.

 

Bisnis Alifi berkembang dan telah membantu menciptakan lapangan kerja baru di komunitasnya.

Atas pencapaian yang diraih oleh Alifi, ExxonMobil berencana untuk terus mendukung program ini. Program ini adalah salah satu dari banyak program yang berfokus pada masyarakat di wilayah tersebut dan ditujukan untuk meningkatkan keterlibatan ekonomi masyarakat kurang mampu.

“Salah satu prioritas kami adalah pelatihan pembangunan ekonomi bagi perempuan dan komunitas penyandang disabilitas yang akan dilaksanakan di Kecamatan Dander, Bojonegoro dan Kecamatan Soko di Tuban, Jawa Timur tahun ini,” ujar Ichwan Arifin, External Affairs Manager, ExxonMobil Indonesia.

Ia menambahkan, “Kami tidak hanya mengembangkan keterampilan penyandang disabilitas dalam kewirausahaan, melainkan juga menyediakan peluang akses ke pasar dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Kami sangat mendukung nilai-nilai inklusivitas dan produktivitas.”

Tags:   bisnisIndonesiamasyarakatpendidikanpertaniansingkong
Anda mungkin juga suka

Jelajahi Lebih Lanjut